Aku menuliskan ini untukmu agar kau tau mimpi itu benar-benar menjadi nyata bila kau imani dan kau minta padaNya Sang pemilik segalanya.

Mengecap pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Master & Doctoral) sudah merupakan cita-cita mulia (ouch) dari awal. Bermodalkan lulusan terbaik dari universitas swasta, saya mantap ingin menjadi dosen. Diiming-imingi akan di angkat jadi dosen keinginanku makin tak terbantahkan meskipun pada akhirnya itu semua hanya ‘lip service’ di acara wisuda semata. Yowes, life must go on toh. Aku pasti bisa kok suatu saat dengan cara yang lebih terhormat. Amin (Awas nyesal lepasin aku, semacam drama hidup hahahha)

Usahaku untuk melanjutkan pendidikan sudah melewati cerita panjang. Mei 2013, aku berangkat ke Malang untuk ikut seleksi BPDN tujuan Universitas Negeri Malang.  Aku tidak tau kota itu, Puji Tuhan ada Kakak senior di sana yang memesankan asrama putri untuk kutinggali beberapa hari. Aku bersyukur si kakak membantuku walau tidak bertatap muka karena dia harus ke Jogja waktu aku sampai. Aku juga bersyukur untuk Adik kelasku yang menjemputku di bandara Juanda dan mengantarku ke terminal bus Surabaya. (Dari Surabaya ke Malang 3 jam atau 2 jam aku lupa. Aku kayak rusa masuk kampung saat itu terbelalak karena kota tersebut hanya biasa terlihat di TV, udik nya aku :D) Lebih lagi aku bersyukur karena Tuhan menunjukkan orang baik yaitu supir taxi dari terminal malang ke asrama putri UM. Saat itu sudah jam hampir jam 9 malam. Aku baru tiba di terminal, handphone ku berdering. Kulihat mama menelpon. Aku menepi ke tempat yang agak tenang;

Aku        : Halo ma…

Mama   : Halo, sudah sampai nang?

Aku        : Udah ma, ini sudah di asrama, baru mau nelpon mama.

Mama   : Syukurlah, Jangan lupa berdoa ya boru. Istirahatlah.

Aku        : Iya ma. Mama juga istirahat ya. Dah Ma…

Kututup teleponnya, dan aku merasa berdosa namun aku harus melakukannya karena mereka bisa khawatir atau bahkan langsung pingsan ( I know my mom to this extend so well). Terminal malang benar-benar sepi, tidak habis-habisnya aku berdoa dalam hati ‘Tuhan tolong aku’. Aku melihat ada seorang lelaki muda mungkin sebaya atau agak lebih tua dan bertanya padanya angkot ke asrama putri UM. Dia bilang tidak ada lagi angkot jam segitu. Mendengar itu, aku semakin gusar. Mungkin dia menyadari ketakutanku dan menawarkan naik taksi saja (Dia ternyata supir taxi). Pada Zaman itu teman-teman belum ada Gojek, Uber ataupun Grab. Coba kalau sudah ada???? Pasti ceritanya tidak akan sesedih itu. Hiksssss!

Aku pun mantap dengan doaku bahwa Tuhan pasti tolong. Tawar-menawar ongkos, aku berangkat dengan dia, dan di mobil itu aku tidak berhenti berdoa, gimana kalau dia bawa lari aku. Aku kan enggak tau jalan dan itu sudah hampir jam 10. Sekarang kedengarannya lucu, namun itu benar-benar oleh penyertaan Tuhan. Si Pak Supir nanyain darimana, hendak kemana dan untuk apa. Aku kasih tau semuanya, dan dia bilang ‘semoga berhasil ya mbak’. Dia malah cerita panjang lebar tentang Malang, what to do dan where to go. Lebih kerennya waktu udah nyampe itu, dia bilang ‘mbak coba tanyakan ke dalam apa benar sudah di reserve sama teman mbak di situ. Saya tunggu di sini. Kalau enggak biar tak temenin cari penginapan’. Aku masuk ke dalam dan menanyakan. Ternyata benar sudah di reserve atas namaku dan aku bilang ke dia, ‘iya pak, udah di reserve, makasih banyak udah bantuin’. Dia pun pergi setelah itu. Di Malang aku tinggal selama 3 hari 3 malam. Sebulan setelah kembali dari Malang, pengumumannya keluar dan aku dinyatakan tidak lulus. Sedihhhhhhh.

Time for Plan B, aku kemudian memutuskan menulis beberapa surat lamaran dan mengantarkannya ke beberapa sekolah. Aku menunggu panggilan sambil tetap melakukan part time job ku yang kini berubah menjadi full time semenjak lulus kuliah. Jadi aku itu sudah ngajar di kursus bahasa inggris sejak kelas XII, jalan terus sampai lulus kuliah. Yah lumayan habis kuliah enggak yang nganggur besar-besaran.

Ada sedikit pola pikir primitif dalam otakku yang bilang kalau di sekolahan prestige nya lebih gede ketimbang kalau ditanya kerja dimana, ‘di kursus’. Pola pikir ini mengantarkanku ke sana. Aku diterima di sebuah sekolah swasta internasional di bagian English enhancement nya. Selama bekerja di sana bersama partner dari US dan UK aku tetap mencari info beasiswa. Aku bahkan mengirimkan aplikasi ke sejumlah universitas di Taiwan dan lulus di NTOU. Namun, aku merasa tidak yakin dan aku tidak pergi.  Setahun bekerja di sana, sekolah tersebut kemudian ingin melegalkanku (yahampuuun istilahnya yahh) menjadi guru mereka. Uyeahhhhh!! Dreams come true!

Juni 2014, Mereka menempatkanku di SMP berpartner dengan teman sejawat dari Philippine. Dengan gaya pembelajaran late immersion dan I + 1 nya Krashen, Aku benar-benar merasa settled dan wanted no more pada waktu itu. Prestige kerja di sekolah internasional, jadi wali kelas membuatku terbuai untuk seketika dan melupakan mimpi sekolahku. Sempat juga berpikir stay di sana sampai akhir hayat. Hahahhaha. Hingga akhirnya aku terbangun dari mimpi indahku, aku mulai tidak nyaman dengan pembedaan guru lokal dan guru expatriate. Ada banyak uneg-uneg yang mendasari, kita bahas di cerita yang lain yah. Aku kemudian teringat dengan mimpi sekolahku dan berpikir hanya dengan pendidikan yang lebih tinggi aku bisa membuat sedikit perubahan. Either it will change my mindset or theirs.

Juli 2015, Aku keluar baik-baik dari sekolah tersebut dengan alasan ingin kuliah lagi. Pindah ke ibukota provinsi, aku bekerja untuk universitas almamaterku (telan ludah) di kantor urusan internasional dengan atasan yang visioner yang mematahkan kepesimisanku terhadap almamaterku. Bekerja sebagai Assistant Director, benar-benar mengubah cara pandangku dan semakin meyakinkanku bahwa hanya pendidikan yang mampu mengubahkan dunia. Aku bertemu orang-orang hebat dari banyak negara, berangkat untuk berseminar ria ala-ala wanita karier yang semakin membuatku merasa aku makhluk terkecil di antara mereka.

Atasanku yang super baik mengarahkanku terus menerus untuk sekolah lanjut. Aku pun giat mencari indo beasiswa. Mata terbuka melotot melihat ternyata ada banyak jenis beasiswa di dunia ini Komilie!!!.Aku membaca tiap jenis dengan saksama mulai dari Chevening, Australian Award, Fulbright, Sweden Scholarships dan punya negeri yang paling kece LPDP, juga beasiswa universitas dari Taiwan.  Aku tersadar mungkin banyak juga yang sepertiku tidak well-informed dengan info – info seperti ini. Plus ini salah satu alasanku menuliskan ini agar bisa kiranya menjadi inspirasi pembaca.

Desember 2015, Aku lulus seleksi administrasi di Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Perkuliahannya dimulai per Februari 2016. Di saat yang sama aku di terima di NTUST Taiwan untuk intake Februari 2016 juga. Namun aku melepaskan keduanya karena aku yakin pasti Tuhan akan bantu aku. Aku mendaftar LPDP di Januari 2016 dan tidak berhenti berdoa. Terpujilah Tuhan aku diterima oleh LPDP pada Maret 2016 (Steps dan experience menyusul yah). Oh yah, aku juga sudah menuliskan personal statementku untuk Fulbright dan AA, namun tidak dikirim lagi karena LPDP telah memilihku.

Kini aku sudah dua bulan menjalani perkuliahan di University of Bristol, England – UK. Tidak pernah kusangka kegagalanku mencari beasiswa hanya karena Tuhan ingin aku menunggu waktuNya yang luar biasa dalam kehidupanku.

Kau pun pasti bisa. Jangan pernah berhenti bermimpi dan berdoa. Tuhan melihat hati kita masing-masing dan memberikan yang terbaik untuk kita.

Dreams do come true, Fakta!

Cheers

Bristol, UK

Advertisements