Menjadi pelajar internasional di negara asing itu menyimpan sejuta cerita pahit, manis, getir, kecut, rindu, kalut, bangga dan banyak rasa yang tak bisa disebutkan satu persatu mungkin juga rasa yang pernah ada dan rasa yang mungkin akan ada (melipir sedikit) bercampur menjadi satu.

Mulai dari harus beradaptasi dengan lingkungan baru, orang baru dan gaya hidup yang baru menjadi sebuah fase yang benar – benar mengajarkan bagaimana untuk bertahan hidup. Belum lagi mata uang yang langsung berbeda membuat kita berpikir setiap waktu seperti kalkulator berjalan. Bagaimana enggak kan, soalnya 1 GBP itu kan setara dengan 16,931.65 (retrieved from XE.Com Currency Converter 30/9/2016)

Jadi ceritanya, Puji Tuhan saya sudah berada di kota Bristol, Inggris selama hampir 3 minggu hingga hari ini. Secara keseluruhan, saya masih tetap belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan. Minggu pertama tiba di sini itu ternyata masih musim panas, mungkin ‘late summer’ katanya yang suhunya mencapai 11 derajat. Nah loh, saat orang-orang berpakaian santai dan berjemur di taman, saya malah pake jaket tebal. Okay, no problem.

Senangnya di sini itu orang menghargai kebebasan orang dengan luar biasa. Orang-orang tidak akan perduli dengan apa pun yang kamu pakai, apa pun yang kamu makan, bagaimanapun caramu hidup, semuanya terserah asal kamu tidak merugikan orang lain. Well, kamu tidak perlu malu dengan dirimu sendiri. Sampai sahabatku di Indonesia pernah sampai pesan, ”ntar kalau udah disana jangan pakai yang macam – macam yah, awas kalau sampai gitu” saya bilang itu masalah prinsip, untuk saya pribadi saya sudah punya prinsip dan janji pribadi dengan Tuhan untuk itu. Nah, kenapa harus jadi diri orang lain kan?

Nah, ceritanya dalam hal makanan, saya juga bukan tipe yang bisa langsung shift dari makanan indo ke makanan lokal, jadi kayak masih baru mulai belajar makan ala – ala western. Jadi saya masak sendiri di flat. Belanjanya di bermacam-macam tempat yang sudah di survey di minggu pertama ketibaan, di mana saja yang ada jual makanan Asia dan makanan murmer. Biasalah kan, calon emak – emak. Sampai sahabatku itu juga bilang jangan jadi kayak inang-inang parrengge -rengge (bahasa batak). hahah

Untuk makanan Asia sendiri, teman-teman kalau nanti berkunjung ke sini ada dua toko cina di kota Bristol.  Ada Wah Yan Hong di 13 Denmark St, Avon, Bristol BS1 5DY dan satu lagi Little Chinatown di Nelson St, Bristol BS1 2Jt. Untuk teman – teman yang muslim juga ada banyak toko halal juga. Kita pasti survive kok, hahha.

Okay, ini dia fokus ceritanya:

Hari ini, saya dan teman-teman pergi berbelanja kebutuhan untuk seminggu di sebuah toko. Kegirangan, saya melompat-lompat melihat ada deretan Indomie di rak. Senang dan bangga sekalian rasa kangen akan Indonesia juga terobati melihat ada barang Indonesia di Inggris. Sehabis muter dan membeli semua barang yang diperlukan, iseng -iseng balik ke rak Indomie. Jujur belum mau beli karna stok dari Indo kemarin masih banyak, dulu kan takut di Inggris tidak ada, jadi bawa dari Indonesia. Saya hanya ingin mengambil foto untuk di publikasi di sosial media untuk dipamerkan bahwa Indomie ada di UK. Saya keluarkan kamera, dan saat menjepret, bertapa terkejut nya saya melihat labelnya bertuliskan ”Indomie Malaysian Noodles”. Saya bilang ke teman saya, ‘ini ga benar, kita harus memperbaikinya sama pemilik toko.”. Kita berjalan menyusuri gang sampai akhirnya sampai ke kasir.

Tetap tidak tenang, saya kembali ke dalam lagi, dan mengambil satu bungkus Indomie tersebut. Saya berjalan menemui penjaga toko. Mencoba dengan sesopan-sopannya untuk tidak menyinggung mereka.

me : I am sorry, I don’t mean anything. Only, I think you make a little mistake in labelling this product. (Showing the photo and a pack of Indomie) This is a product by Indonesian, and you’ve mistakenly wrote it to be other’s

shopkeeper :No, young lady, it is originally from Malaysia.

me : You can see the label written here, it is manufactured by PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Jakarta – Indonesia.

Setelah perbincangan yang agak lama, mereka akhirnya meminta maaf untuk mislabelling produknya dan mereka langsung melaporkannya ke bos nya. Bos nya bilang akan segera menggantinya. Wah, mereka itu super ramah dan sangat helpful.

shopkeeper : are you happy now?

me : indeed, I am super happy. Thank you very much.

shopkeeper : Have a great weekend young lady.

me : you too.

Saya pun berlalu dari toko tersebut dengan berbangga hati.

Saya memang belum melakukan apapun untuk negeri ini. Malah saya ada di sini karena negeri ini memberiku kesempatan untuk belajar keras mengejar ketertinggalan, mengadopsi kemajuan untuk kembali mengabdi membangun Indonesia a.k.a. keluarga besar LPDP. Mungkin ini hanya masalah sepele buat mereka, namun bagiku ini masalah harga mati menjadi orang Indonesia yang bangga akan Indonesia dan produk-produknya. Saya bisa saja berlalu karena itu tidak akan mempengaruhi apapun dalam hidupku, atau bahkan menambah uang beasiswaku. Namun hati kecilku ini milik Indonesia. Saya belajar memperjuangkan milik Indonesia. Karna Saya adalah Indonesia…

Semoga ini bisa menjadi refleksi bagi kita semua untuk tetap menjunjung tinggi kebanggaan kita Indonesia. Indonesia identitas kita, Indonesia adalah kita.

Salam,

Bristol, 30 September 2016

 

 

 

 

 

 

Advertisements